Topeng Hudoq

Topeng atau budot ini dipakai dalam tarian Hudoq pada masyarakat Dayak Modang dan Bahau Kenyah di pedalaman Kalimantan.
Pada masyarakat dayak di pedalaman Kalimantan terdapat upacara yang ditujukan dewi padi dan pencipta alam semesta (Po’ Matau) saat memulai musim tanam padi, bersih desa (ngugu tahun) dan merayakan musim panen. Saat upacara berlangsung dipertunjukkan tarian Hudoq yang sakral berkekuatan magis. Upacara ini dapat berlangsung satu jam hingga satu hari.

Tarian Hudoq biasanya dilakukan oleh 11 orang penari laki-laki yang dipimpin oleh seorang pawang. Pada upacara ini disiapkan sesaji dan pawang mengucapkan mantra, lalu menaburkan beras kuning ke kepala para penari sebagai tanda upacara telah dimulai. Para penari menjadi perantara yang bertugas menyampaikan doa untuk memperoleh panen berlimpah dan kesejahteraan bagi desa, serta mengucap syukur atas hasil panen yang diperoleh. Tarian ini digelar di lapangan terbuka yang luas dan para penonton mengelilingi arena pertunjukkan. Garakan kaki dan tangan mendominasi tarian Hudoq. Para penari mengenakan busana dari kulit pohon yang dihiasi dengan rumbai-rumbai dari daun pisang kering serta dilengkapi dengan topeng (budot) yang menggambarkan gabungan antara hama dan hewan-hewan yang berbahaya bagi tanaman padi, seperti burung dan babi, topi berbulu dan tongkay kayu yang dipegang di angan kanan.

Pada masyarakat kenyah terdapat tarian Hudoq Kita yang berkaitan dengan perputaran musim tanam. Namun busana dan perlengkapannya berbeda dengan tarian Hudoq Dayak Bahau dan Modang. Tarian Hudoq khas masyarakat Dayak Modang dan Bahau di pedalaman Kalimantan ini diiringi dengan alat musik gong dan tubun (gendang kecil yang dapat digenggam), sedangkan tarian Hudoq Kita diiringi oleh gong dan sampeq.

Topik : Topeng
Jenis : Kayu
Nomor Inventaris : -
Lembaga : Museum Nasional Indonesia
Provinsi : D.K.I Jakarta
Topik keterkaitan

Beberapa topik yang terkait dengan data tersebut


Topeng Panji Kelono

Topeng Bapang