Pelana Kuda Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan nasional yang dikenal dalam Perang Jawa. Pangeran Diponegoro juga seorang penunggang kuda yang mahir. Keahliannya ini sangat membantunya dalam berbagai usaha menyelamatkan diri selama Perang Jawa berkobar. Beberapa kuda tunggangannya dianggap sebagai pusaka hidup, salah satunya seekor kuda hitam dengan kaki putih yang disebut dengan Kyai Gentayu. Tepat di hari ulang tahun ke 44, tanggal 11 November 1829 Pangeran Diponegoro disergap pasukan gerak cepat Belanda yang dipimpin oleh Mayor A.V. Michiels dan Pasukan Gerak Cepat ke-11 yang tediri dari pasukan Ternate (terkenal dengan kemampuan lacaknya) di pegunungan Gowong kawasan barat Kedu.

Ia berhasil meloloskan diri tetapi beberapa pusaka miliknya tertinggal, seperti kuda beserta pelananya, peti pakaian dan tombak pusaka Kyai Rondhan. Tombak dan pelana kuda kemudian dikirim ke Belanda dan dipersembahkan kepada Raja Willem I (bertahta 1813-1840) sebagai rampasan perang, dan pada akhirnya dikembalikan kepada Indonesia oleh Ratu Juliana (1948-1980) tahun 1978 dibawah ketentuan Kesepakatan Budaya Belanda-Indonesia tahun 1968.

Tahun Pembuatan : Pra 1825
Bahan : Campuran
Jenis : Sejarah
Dimensi : 70x50 cm
Nomor Inventaris : -
Lembaga : Museum Nasional Indonesia
Topik keterkaitan

Beberapa topik yang terkait dengan data tersebut


Baju Kulit Kayu

Sasando

Barong Landung

Barong Ket